Dari Kotoran Manusia Menjadi Bukit Amerta


Dari Kotoran Manusia Menjadi Bukit Amerta

(Pernah dimuat di Media Hindu Edisi Mei 2012)

Oleh : Miswantopba.jpg

Aneh memang, dari kotoran manusia masak bisa menjadi Bukit Amerta. Tetapi itulah kenyataan yang benar-benar terjadi. Dan saksi bisu sejarah itu kini masih dan akan tetap berdiri kokoh sebagai sebuah tempat suci Hindu yang disakralkan oleh umat Hindu di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Ya, itulah Pura Bukit Amerta yang berada di Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Menurut Romo Mangku Doto, Pura Bukit Amerta pada awalnya belum besar seperti sekarang ini. Di sana dahulu pada awalnya hanya ada punden yang berupa batu. Batu ini sendiri terkait dengan sejarah dan keberadaan Desa Karangdoro yang merupakan wilayah dimana Pura Bukit Amerta sekarang berdiri.

Batu tersebut berada di Bukit Tambur yang ada di Dusun Blokagung, Desa Karangdoro. Bukit yang berupa gumuk ini dinamakan Gumuk Tambur, karena menurut masyarakat sekitar pada jaman dahulu dari bukit ini sering terdengar suara gamelan Jawa yang begitu merdu. Gamelan Jawa tersebut berbunyi bagaikan suara tambur.

Kata “tambur” berasal dari kata Jawa Kuno “tambra” atau “tàmra” yang berarti “tembaga atau perunggu”. Gamelan Jawa pada umumnya dibuat dari logam tembaga atau perunggu. Kemudian perihal gumuk dengan batu yang terjal tersebut dalam Bahasa Jawa Kuno disebut sebagai “tambir” (Zoetmulder,2006). Kata tambur yang kemudian dijadikan sebagai nama bukit tersebut mungkin juga ada kaitannya antara kata tambir (sebagai batu terjal pada sebuah bukit) dan kata tambra sebagai gamelan yang berasal dari tembaga atau perunggu.

Oleh karena suaranya yang sangat merdu bagaikan alunan gamelan tersebut, maka sekitar tahun 1950-an umat Hindu yang ada di sekitar tempat itu mendatanginya. Kemudian mereka menjadikan tempat itu sebagai tempat untuk mengadakan ritual “suguhan Jawa“. Ritual ini dimaksudkan untuk menghaturkan rasa terima kasih kepada para leluhur Jawa yang telah memberikan anugrahnya kepada mereka.

Lama kelamaan umat Hindu membangun tembok penyengker di bukit itu dan menandai bahwa tempat itu menjadi tempat yang disucikan oleh umat Hindu. Setelah itu umat Hindu yang ada di desa ini selalu mengadakan ritual dan meditasi di tempat itu. Di sini pula umat Hindu memohon tirtha amerta yang dipimpin oleh sesepuh umat.

Suatu ketika umat Hindu di daerah ini dikejutkan dengan adanya kotoran manusia sebanyak 3 buah yang dimasukkan ke dalam toples tempat tirta di mana mereka biasa gunakan untuk memohon tirta. Kejadian ini membuat gempar umat Hindu yang ada di sana. Mereka bertanya-tanya siapa yang berani dan sengaja menaruh kotoran manusia itu ke tempat tirtha yang disucikan itu.

Hal ini juga dibenarkan oleh Jero Gede Niryasa (I Ketut Sidera), salah seorang sesepuh umat Hindu di Kabupaten Banyuwangi. Menurutnya pada waktu itu Jero Gede Niryasa menyarankan agar umat Hindu di sana tidak marah. Mereka disarankan untuk lapang dada dan legawa. Demikian juga Bapak I Nyoman Parbasana yang waktu itu menjadi pegiat dharma di wilayah Kabupaten Banyuwangi juga menyarankan agar umat Hindu tidak terpancing emosinya. “Itu hanyalah ujian yang diberikan kepada umat Hindu” tuturnya waktu itu.

Kemudian Jero Gede Niryasa dan Nyoman Purbasana kala itu menyarankan agar tempat tirtha yang ada kotoran manusianya itu dibawa ke Bali. Hal ini disetujui oleh umat Hindu di Desa Karangdoro. Oleh karenanya pada waktu yang telah diditentukan mereka membawa tempat tirtha tersebut kepada salah seorang guru Yoga di Bali yang bernama Bapak I Gede Winanca.

Beliau mengatakan bahwa dirinya sempat kaget begitu menerima berita dan tempat tirtha itu. Namun kemudian dia malah tersenyum dan berkata “kotoran ini biarlah menjadi rabuk bagi amerta yang akan keluar dari bukit”. Kemudian setelah setelah itu semuanya berdoa di bukit Tambur dengan sikap pasrah sumarah kepada Tuhan atas aib tersebut.

Beberapa hari kemudian terlihat ada orang yang bukan umat Hindu sakit-sakitan. Sudah beberapa dokter dan dukun ia datangi namun tak kunjung sembuh. Hingga akhirnya, ajalnya pun tiba. Tetapi sebelum ia meninggal ia berterus terang kalau ia yang telah menaruh kotoran manusia di toples tempat tirtha yang ada di bukit itu. Selanjutnya ia meminta kepada keluarganya agar ia dimakamkan di kaki bukit Tambur untuk menebus segala dosa-dosanya. Sejak kejadian itu maka, umat lain yang ada di sana pun mulai menghormati keberadaan umat Hindu dan tempat suci tersebut.

Pasca kejadian tersebut, tempat ini kemudian menjadi semakin terkenal dan ramai dikunjungi orang. Banyak umat Hindu dari daerah lain yang berdatangan ke tempat ini untuk menghaturkan puja dan bhakti kehadapan Sang Hyang Widdhi Wasa.

Selain itu beberapa pegiat yoga yang ada di Desa Karangdoro ini menjadi semakin percaya dengan kekuatan Bhatara yang malinggih di Bukit Tambur tersebut. Mereka semakin sering mengadakan latihan yoga dan samadhi di tempat ini.

Suatu ketika, pada saat mereka mengadakan yoga samadhi di tempat itu ada salah seorang dari mereka yang kerauhan atau dalam istilah masyarakat Jawa “kesusupan” kekuatan Rsi Markandeya. Dia mengaku bahwa penyungsung atau umat Hindu di tempat ini harus mendirikan pura di sini dan mencari Lingga Yoni yang ada di Gunung Raung yang merupakan peninggalan Maharsi Markandeya (baca tulisan saya di MH yang berjudul “Menelusuri Jejak Rsi Markandeya di Gunung Raung”).

Setelah kejadian tersebut, maka sembilan orang dari pegiat Yoga tersebut mencari batu atau Lingga yang dimaksudkan dalam pawisik tersebut. Mereka pada awalnya bingung karena tidak ada penunjuk jalan yang bisa menunjukkan tempat di mana Lingga Yoni di Gunung Raung itu berada.

Untuk itu salah seorang pimpinan rombongan, membakar dupa ketika sampai di kaki Gunung Raung. Kemudian sembilan orang dari anggota rombongan tersebut sama-sama memusatkan pikiran untuk mencari getaran dari dupa yang dibakar itu dengan tempat yang ia cari.

Keajaiban pun terjadi, mereka yang berjalan tanpa ada pemandu itu pun dapat menemukan batu Lingga Yoni yang diyakini sebagai Lingga Yoni peninggalan Maharsi Markandeya. Lingga Yoni itu pun kemudian dilinggihkan di bukit Tambur. Setelah itu sebagaimana pawisik yang diterima oleh para pegiat Yoga tersebut, maka di bukit Tambur ini kemudian didirikan sebuah Pura dengan nama “Pura Bukit Amerta”. Nama ini sebagaimana apa yang pernah diungkapkan oleh I Gede Winanca saat menerima kotoran yang dari umat Hindu Desa Karangdoro sebagaimana telah diceritakan di muka.

Di lain hari, ketika para pegiat Yoga yang ada di wilayah ini sedang mengadakan samadhi, salah seorang dari mereka kemudian mendapat pawisik agar mencari batu yang ada di Alas Purwo dan Gunung Agung. Batu itu konon merupakan peninggalan Maharsi Markandeya saat Beliau bersama-sama pengikutnya pergi dari Gunung Raung menuju Pulau Bali.

Sama dengan ketika mencari Lingga Yoni yang ada di Gunung Raung, maka kali ini mereka pun mencari batu tersebut dengan bantuan dupa sebagai penunjuk jalannya. Pertama mereka datang ke Alas Purwo untuk mencari batu sebagaimana yang dimaksud. Upaya itu pun tidak sia-sia, alhasil mereka bisa menemukan batu yang dimaksud tepat di sebuah petilasan kuno di Alas Purwo. Batu ini kini dilinggihkan menjadi sebuah pelinggih di Pura Bukit Amerta.

Lalu mereka pergi melanjutkan pencarian batu yang kedua itu ke Gunung Agung di Pulau Bali. Di sini pun mereka melakukan cara yang sama untuk menemukan batu sebagaimana yang dimaksud. Akhirnya mereka pun bisa menemukan batu sebagaimana yang dimaksud. Batu ini juga dilinggihkan menjadi satu dengan batu yang ditemukan dari Alas Purwo.

Setelah itu kini Pura Bukit Amerta ini menjadi pura sentral di Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi. Pura ini menjadi sebuah Pura Kahyangan Jagat yang cukup dikenal oleh seluruh masyarakat di Jawa Timur bahkan hingga di Pulau Dewata.

Lihat juga kesaksian Mbah Joyo

Advertisements

2 thoughts on “Dari Kotoran Manusia Menjadi Bukit Amerta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s